Cara Memahami Makna Nilai Akreditasi

Akreditasi saat ini merupakan suatu senjata utama bagi berbagai institusi perguruan tinggi dalam menjaring mahasiswa baru. Namun tidak sedikit masyarakat yang salah manafsirkan makna dari suatu akreditasi. Celakanya, kondisi salah tafsir ini juga melanda para pendidik di perguruan tinggi yan kurang memahami makna akreditasi. Penilaian Akreditasi yang dilakukan "Badan Akreditasi Nasional" atau yang disingkat BAN.

Hasil akreditasi biasanya dinyatakan dengan Huruf Mutu seperti A,B, atau C. Ada dua model akreditasi yang dikembangkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggii (BAN-PT).

Pertama, akreditasi institusi Institusi/Lembaga/Perguruan Tinggi.
Akreditasi ini merupakan penilaian secara menyeluruh tentang kondisi lembaga tersebut. Akreditasi ini sifatnya partisipan, artinya tidak diwajibkan. Banyak Penyelenggaran pendidikan yang tidak mampu dan tidak berani menyelengarakan akreditasi ini karena proses dan syaratnya sangat rumit dan ketat. Disisi lain, akreditasi jenis ini sangatlah membutuhkan kemapanan sebuah institusi dalam menyelenggarakan pendidikan. Beberapa institusi pendidikan di Pulau Jawa seperti UI, ITB, IPB, UGM dan beberapa institusi ternama lainnya telah melakukan akreditasi institusi. Sedangkan di Sumatera sendiri, akreditasi institusi hanya berani dilakukan oleh Unila dengan hasil yang kurang memuaskan.

Kedua, akreditasi program studi.
Akreditasi ini sifatnya wajib tanpa memandang status lembaga penyelenggaran pendidikan (negeri/swasta). Akreditasi ini biasanya dilakukan setelah program studi yang bersangkutan telah meluluskan mahasiswanya karena salah satu unsur penilaiannya adalah alumni. Akreditasi program studi mempunyai masa berlaku selama lima tahun dan wajib diperbaharui statusnya setelah masa berlakunya habis.

Banyak faktor yang menentukan hasil penilaian akreditasi. Pengalaman penulis, ada beberapa program studi yang terlihat matang namun dalam akreditasinya mendapatkan hasil yang tidak memuaskan dan tidak sepantasnya didapatkan. Begitu pula sebaliknya. Salah satu penyebabnya adalah kegiatan pengarsipan yang tidak dilakukan dengan baik oleh proram studi tersebut. Dalam proses akreditasi, seorang penilai tidak akan menilai berdasarkan “hitam diatas putih” saja, namun bukti otentik yang sangat dibutuhkan.

Saat ini akreditasi program studi sangatlah penting. Jauh lebih penting dibandingkan akreditasi institusi. Hal ini dikarenakan beberapa penyedia lapangan pekerjaan mensyaratkan akreditasi program studi sebagai dasar penerimaan lamaran. Tidak sedikit mereka yang ditolak lamarannya karena kecewa dengan status akreditasinya. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi kita menyadarkan dan selektif dalam mencari program studi yang benar – benar terakreditasi. Semoga tulisan ini mencerahkan kita yang peduli dengan dunia pendidikan tinggi.

Inspirasi: Lihat Makna Nilai Akreditasi | Tag: nilai, akreditasi, makna

Share on Google Plus

About Dedi Mukhlas

Penulis adalah Seorang Mahasiswa Teknologi Pendidikan (TEP) Universitas Negeri Malang Angkatan 2009. Kecintaan akan dunia Pendidikan dan Teknologi sering menjadi Inspirasi artikel-artikel dari Penulis. Anda bisa berbagi ilmu pengetahuan dengan penulis pada no: 085730130718 | 7978102F
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 Komentar:

  1. akreditasi sangat perlu bagi sebuah lembaga terutama lembaga pendidikan,,, semakin bagus sitem maka akan mudah dlam menggapai hasil yg memuaskan tentunya akan mendpatkan akreditasi yg baik jg.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas komentar Anda sangat membantu sekali dalam terus berkarya :D

    BalasHapus