Bahaya Akibat Buruk dari Dosa Maksiat

Bahaya Akibat Buruk dari Dosa Maksiat - Ketahuilah wahai saudaraku, perbuatan yang seorang hamba lakukan di dalam kehidupan dunia ini ada yang berdampak positif dan ada pula yang berdampak negatif. Sebagaimana halnya ketika hamba melakukan perbuatan baik dan senantiasa bersungguh-sunguh dalam kebaikan, maka Allah ta’ala akan mempermudah baginya jalan menuju ridho-Nya. Begitu pula sebaliknya, perbuatan dosa mempunyai pengaruh buruk yang sangat signifikan dan kompleks baik terhadap hati pelaku, badan maupun terhadap masyarakat sekitarnya. Dan pengaruh buruk tersebut dapat terjadi di dunia dan juga akhirat.
Maka pada kesempatan ini kami akan menyuguhkan kepada pembaca sepenggal dampak buruk dari perbuatan dosa dan maksiat. Dengan harapan dapat membuat hati kita takut hanya kepada Allah semata, sehingga dengan taufik-Nya kita dapat meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat. Diantara pengaruh buruk dari perbuatan dosa dan maksiat adalah:

Pertama: Menghalangi datangnya ilmu.

Ketahuilah, wahai saudaraku, ilmu adalah cahaya yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada hamba-Nya. Ketika seorang penuntut ilmu bermaksiat kepada Allah, maka Allah mencegahnya untuk mendapatkan ilmu. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika beliau mengadukan tentang buruknya hafalan beliau dikarenakan maksiat yang beliau lakukan. Ia berkata:
Aku mengeluh kepada Waki’ akan buruknya hafalanku
Lalu ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat
Beliau berkata: ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada yang suka bermaksiat

Sebaliknya jika seorang selalu menjaga ketakwaannya kepada Allah ‘azza wa jalla, maka ia akan mendapatkan limpahan ilmu. Ia akan dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, yang bermanfaat dan yang berbahaya. Dan ini merupakan ilmu sebagaimana Allah membukakan baginya ilmu lainnya yang tidak diberikan kepada orang selainnya. 

Kedua: Penyebab terhalangnya rizqi.

Perbuatan dosa dan maksiat akan menghalangi seseorang dari rizqi. Sebaliknya, takwa merupakan sebab Allah menganugerahkan rizqi bagi hamba-Nya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Ketiga: Kesulitan dalam segala urusan.

Wahai saudaraku, seseorang yang senantiasa terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat akan mendapatkan banyak rintangan, kesulitan dan kesukaran dalam setiap urusan. Lain halnya dengan seseorang yang ketakwaan senantiasa bersemi dalam sanubarinya, maka ia akan mendapati segala urusannya mudah. Dan kemudahan tersebut akan selalu langgeng sampai di akhirat kelak. Hal ini sebagaimana firman Allah tabaaraka wa ta’ala dalam surat at-Thalaq ayat 4:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. at-Thalaq: 4) | Adapun di akhirat kelak, maka Allah akan meneguhkan dirinya dalam menjawab pertanyaan malaikat yang mendatanginya di alam kubur. Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

Keempat: Perbuatan dosa dan maksiat membuat hati menjadi gelap.

Efek kronis dari perbuatan dosa dan maksiat yang hamba lakukan akan memberikan noda hitam pada hatinya. Apabila seorang hamba tersebut terus dan senantiasa dalam kemaksiatan, maka hatinya akan menjadi gelap dan menjadi sulitlah hidayah Allah mengetuk pintu hatinya, dan hal tersebut dapat menjerumuskan dirinya ke dalam perkara-perkara yang lebih buruk lagi seperti, kesyirikan, bid’ah, kesesatan dan perkara-perkara yang membinasakannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seseorang mukmin apabila berbuat dosa maka di beri titik hitam pada hatinya, apabila ia bertaubat, kemudian meninggalkan perbuatan dosa tersebut lalu beristighfar, maka bersihlah hatinya. Apabila ia terus dalam berbuat dosa maka semakin bertambah titik hitam tersebut sampai menutupi hatinya, itulah karat yang Allah sebutkan: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. al- Mutaffifin: 14)
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya kebaikan akan memberikan sinar di wajah, cahaya pada hati, keluasan rizqi, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia. Adapun kemaksiatan memberikan hitam pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, kekurangan rizqi dan kebencian di hati manusia.” 

Kelima: Perbuatan dosa dan maksiat merupakan warisan umat-umat dahulu yang telah dibinasakan dengan berbagai macam adzab.

Berapa banyak umat-umat yang telah Allah ta’ala binasakan dikarenakan dosa dan maksiat. Allah membinasakan kaum Nuh ‘alaihissalam dikarenakan mereka berbuat kesyirikan di muka bumi ini dengan ditenggelamkan dengan banjir yang sangat besar. Kemudian disusul oleh kaum Nabi Hud ‘alaihisssalam yang Allah binasakan dengan adzab yang sangat pedih. Maka seorang mukmin hendaknya mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan menjauhi segala larangan-Nya. Firman-Nya:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Keenam: Kemaksiatan dapat mewariskan kehinaan bagi pelakunya.

Sesungguhnya kemuliaan hanya dapat diperoleh dengan ketaatan kepada Allah ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.”
(QS. Fathir: 10)
Sebaliknya, perbuatan maksiat yang dilakukan seorang hamba akan melahirkan kehinaan dalam dirinya, yang mana hal tersebut dapat menyebabkan kehinaan pula bagi dirinya di akhirat kelak. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat beberapa pelaku kemaksiatan melalui lisannya, seperti laknat beliau atas wanita yang menyambung rambut atau yang meminta disambung, terhadap orang yang bertato atau meminta ditato (Muttafaq ‘alaihi).Sebagaimana juga beliau melaknat orang yang makan riba, yang memberikan riba, penulisnya dan kedua saksinya (HR. muslim). Sebab hal di atas termasuk bentuk kemaksiatan kepada Allah dan rasul-Nya, dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah maka Allah akan melaknatnya. Dan arti dilaknat di sini adalah dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. 

Kedelapan: Penyebab kerusakan di muka bumi.

Di antara pengaruh yang sangat kompleks dari perbuatan dosa dan maksiat adalah terjadinya kerusakan di muka bumi seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, krisis moneter dan lain sebagainya. Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum: 41)
Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati perkampungan kaum Tsamud. Beliau melarang para sahabatnya untuk melewati perkampungan mereka kecuali dalam keadaan menangis. Beliau juga melarang minum dari air-air mereka dan mengambil air dari sumur sumur mereka. 

Penutup

Hanya inilah sekelumit pengaruh-pengaruh dosa dan maksiat yang dapat disuguhkan. Disana masih banyak lagi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah ‘azza wa jalla. Kita memohon kepada Allah tabaaraka wa ta’ala agar senantiasa diberi pertolongan dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan ketaqwaan dalam sanubari kita dan terus bersemi di dalamnya sampai ajal menjemput kita. [Oleh: Aulia Ramdanu]

MUTIARA ATSAR SAHABAT

Anas bin Malik rahdhiyallahu ‘anhu berkata (HR. Bukhari, no. 6127):
Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan, yang pada pandangan kalian ia lebih lembut dari rambut, sementara kami dahulu para masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap termasuk dosa besar yang dapat membinasakan.

 Ibnu Mas’ud rahdhiyallahu ‘anhu berkata (HR. Bukhari):
“Sesungguhnya orang mukmin melihat dosanya seolah-olah ia berada di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan roboh menimpanya. Sedangkan tukang maksiat melihat dosanya seperti seekor lalat yang menempel di hidungnya, ia menyingkirkannya begitu saja dan lalat itu pun terbang.”

“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi)


Rekan-rekan..
Tahukah engkau  apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 akibat yang akan menimpa diri kita. Karena itu, renungkahlah…

Akibat yang pertama adalah maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatan dalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”


Akibat yang kedua adalah maksiat akan menghalangi Rezeki

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)
Karena itu, wahai Saudaraku sekalian, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rezeki kita. Jika saat ini kita merasakan betapa sulitnya mendapatkan rezeki Allah, maka tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.

Akibat ketiga, maksiat membuat kita berjarak dengan Allah.

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”

Akibat maksiat yang keempat adalah kita akan punya jarak dengan orang-orang baik.

Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

Akibat kelima, maksiat membuat sulit semua urusan kita

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempesulit segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”
Begitulah, wahai Saudaraku, jika kita gemar bermaksiat, semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta benci pada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. Makanan yang kita makan tidak suka kita makan. Orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.

Akibat keenam, maksiat melemahkan hati dan badan

Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.
Wahai Saudaraku, lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!

Akibat maksiat yang ketujuh adalah kita terhalang untuk taat

Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.

Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan

Ini akibat maksiat yang kedelapan. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya.
Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.
Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.

Akibat kesembilan, maksiat menumbuhkan maksiat lain

Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.
Karena itu, hati-hatilah, Saudaraku. Jangan sekali-kali mencoba berbuat maksiat. Kalian akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!

Maksiat mematikan bisikan hati nurani

Ini akibat berbuat maksiat yang kesepuluh. Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat. Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.

Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali

Itulah akibat maksiat yang kesebelas. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah swt.

Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah diazab Allah swt.

Ini akibat kedua belas yang menimpa pelaku maksiat.
Homoseksual adalah maksiat warisan umat nabi Luth a.s. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib a.s. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan maksiat warisan kaum Hud a.s.
Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku maksiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.” Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.

Akibat berbuat maksiat yang ketiga belas adalah maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadinaan

Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj:18). Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Karena, kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….” (Al-Faathir:10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”

Akibat keempat belas, maksiat merusak akal kita

Tidak mungkin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sehat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!

Akibat kelima belas, maksiat menutup hati.

Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin:14). Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.

Akibat keenam belas, pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.

Saudaraku sekalian, Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya. Karena itu, tinggalkanlah semua itu!

Akibat ketujuh belas, maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.

Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah swt. berfirman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (Al-Mukmin: 7-9)

Akibat kedelapan belas, maksiat melenyapkan rasa malu.

Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilangkah seluruh kebaikan dari diri kita. Rasulullah bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

Akibat kesembilan belas, maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.

Jika kita melakukan maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!

Maksiat memalingkan perhatian Allah atas diri kita. Ini akibat yang kedua puluh.

Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)

Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab.

Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?

Dan akibat yang terakhir, yang kedua puluh dua, maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.

Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!
Sahabat, sahabat..
Renungkan! Renungkan…! Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan maksiat. Amin.

referensi : dakwatuna.com

Tahukah Anda sekalian apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Berikut ini adalah sebagian dari banyaknya akibat yang akan diperoleh akibat melakukan perbuatan maksiat. Karena itu, renungkahlah, wahai orang-orang yang berakal!

Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’e yang luarbiasa, beliau (Imam Malik) berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di dalam hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat”.

Maksiat mengahalangi Rezeki
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkannya berarti menimbulkan kefakiran. “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya”. (HR Ahmad)

Maksiat Menimbulkan Jarak dengan Allah
Diriwayatkan ada seorang lelaki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa”.

Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain dari Golongan Baik
Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang(kenderaan) dan isteriku”.

Maksiat Menyulitkan Urusan
Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya.

Maksiat dapat Melemahkan Hati dan Badan
Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.
Wahai Saudaraku, lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!

Terhalang untuk taat.
Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.

Maksiat Memperpendek umur dan menghapus keberkahan
Ini akibat maksiat yang kedelapan. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya.
Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.
Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.

Maksiat menggelapkan hati
Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap-gulita. Ibnu Abbas RA berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk”.

Maksiat Menghalangi Ketaatan
Orang yang melakukan dosa dan maksiat akan cenderung untuk memutuskan ketaatan. Seperti selayaknya orang yang satu kali makan tetapi mangalami sakit berkepanjangan dan menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik.

Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain
Seorang ulama salaf berkata bahawa jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorong dia untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi si pelaku.

Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani
Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan dan sebaliknya akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan untuk bertaubat.
Itulah sebagian akibat dari berbuat maksiat. Jadi renungkanlah.

Referensi: http://nurmuhammad.web.id/artikel/akibat-berbuat-maksiat/
Share on Google Plus

About Dedi Mukhlas

Penulis adalah Seorang Mahasiswa Teknologi Pendidikan (TEP) Universitas Negeri Malang Angkatan 2009. Kecintaan akan dunia Pendidikan dan Teknologi sering menjadi Inspirasi artikel-artikel dari Penulis. Anda bisa berbagi ilmu pengetahuan dengan penulis pada no: 085730130718 | 7978102F
    Blogger Comment
    Facebook Comment